Perjalanan yang Tidak Pernah Benar-Benar Mudah
Sebuah kisah tentang kehilangan, keluarga, hinaan, rantau, dan usaha untuk tetap menjadi manusia yang sabar meski sering diperlakukan berbeda.
Ditulis dari perjalanan hidup nyata
Aku adalah anak pertama. Dan mungkin, sejak kecil hidup memang sudah menuliskan jalan yang tidak biasa untukku. Kalau orang bertanya, sejak kapan aku merasa hidupku berbeda, maka aku akan menjawab: sejak aku duduk di bangku kelas 3 SD. Di usia ketika anak-anak lain masih sibuk bermain dan pulang ke rumah untuk bercerita kepada ayahnya, aku justru dipertemukan dengan kehilangan yang mengubah seluruh hidupku.
Hari itu masih sangat jelas di kepalaku. Aku melihat kerumunan ramai di rumah tetangga. Banyak orang berdatangan, wajah-wajah panik, suara tangis bercampur kebingungan. Saat itu aku berpikir, mungkin tetanggakulah yang sedang tertimpa musibah. Aku tidak pernah menyangka, berselang sekitar satu jam kemudian, rumahku justru ikut ramai. Orang-orang mulai berdatangan, tangis mulai terdengar lebih dekat, dan suasana yang tadinya terasa asing mendadak menjadi milikku sendiri.
Barulah aku tahu, ternyata yang meninggal bukan orang lain. Yang tidak terselamatkan dari kejadian itu adalah ayahku sendiri. Ayahku pergi saat menolong orang lain. Di sebuah kejadian yang mungkin tidak semua orang berani menghadapi, ayahku justru ada di sana, membantu, menolong, melakukan sesuatu yang bahkan mungkin tidak sanggup dilakukan orang lain. Ada rasa bangga yang bercampur perih setiap kali aku mengingat itu. Bangga karena ayahku adalah orang baik. Tapi juga hancur, karena kebaikan itu justru menjadi perpisahan terakhir kami.
Sejak ayah pergi, hidup kami dijalani hanya berdua: aku dan ibu. Namun di tengah semua kehilangan itu, Allah masih menghadirkan seseorang yang begitu berarti dalam hidup kami, yaitu pamanku. Bagiku, beliau adalah salah satu paman terbaik yang pernah ada. Beliau selalu ada untuk ibuku, selalu memberi dukungan, selalu membantu, dan selalu menjadi orang yang membuat kami merasa bahwa kami tidak sepenuhnya sendirian.
Saat aku kelas 4 SD, ibuku menikah lagi. Sebagai anak kecil, saat itu aku hanya berpikir satu hal: akhirnya ibu tidak sendirian lagi. Aku ingin ibu bahagia. Aku ingin ibu punya teman hidup yang bisa menjaganya. Tapi ternyata, tidak semua awal yang terlihat baik berakhir dengan rasa nyaman. Justru setelah itu, cobaan-cobaan lain mulai datang satu per satu.
Tentang Perbedaan yang Diam-Diam Menyakiti
Di rumah baru itu, aku mulai merasakan apa artinya perbedaan. Aku mulai merasa bahwa aku tidak benar-benar berada di tempat yang sepenuhnya menerimaku. Ada perlakuan yang berbeda, ada perhatian yang tidak sama, ada jarak yang bahkan tidak perlu dijelaskan karena bisa dirasakan begitu nyata. Aku melihat adik dan kakak tiriku mendapatkan perlakuan yang berbeda, tumbuh dalam kenyamanan yang lebih besar, dalam perhatian yang lebih utuh.
Sementara aku dan ibuku datang dari keluarga sederhana—bukan keluarga kaya, bukan keluarga terpandang, hanya keluarga menengah yang hidup dengan rasa syukur. Sedangkan ayah tiriku berasal dari keluarga yang berada. Di situlah luka itu mulai tumbuh. Aku dan ibuku sering dihina. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Ibuku, perempuan yang sudah begitu banyak menderita, justru harus menerima ucapan-ucapan yang merendahkan hanya karena kami bukan orang berada.
Bahkan ada momen yang sampai hari ini masih membekas di kepalaku: ketika makanan di rumah orang tua ayah tiriku disembunyikan saat aku datang. Seolah kehadiranku adalah sesuatu yang harus dihindari. Seolah aku ini anak yang tidak pantas ikut menikmati apa yang mereka punya. Aku masih kecil, tapi aku bisa merasakan semuanya. Aku tahu kapan seseorang menatapku dengan rendah. Aku tahu kapan ibuku sedang menahan malu. Aku tahu kapan sebuah rumah terasa bukan rumah.
Sejak kecil aku belajar menjadi anak yang sabar. Bukan karena hidupku mudah, tapi karena aku tidak punya pilihan lain selain bertahan. Aku selalu percaya, setiap cobaan pasti ada jalan keluarnya. Setiap luka pasti ada hikmahnya. Dan setiap air mata yang jatuh diam-diam pasti tidak akan sia-sia di hadapan Tuhan.
Merantau, Sekolah, dan Luka yang Ikut Menyusul
Waktu terus berjalan sampai aku memasuki masa SMA. Di titik itu, aku memutuskan untuk sekolah di luar pulau, di luar Sulawesi. Keputusan itu bukan keputusan yang mudah. Tapi aku ingin keluar dari lingkungan yang selama ini membuatku merasa sesak. Aku ingin mengejar pendidikan, mengejar cita-cita, dan mungkin juga mengejar versi diriku yang lebih kuat.
Aku pergi dengan harapan bahwa di tempat baru, hidup akan terasa lebih ringan. Tapi ternyata, luka lama tetap bisa menyusul ke mana pun aku pergi. Ada satu kalimat dari kakak tiriku yang sampai hari ini tidak pernah benar-benar hilang dari kepalaku:
Aku diam. Bukan karena aku tidak sakit. Justru karena terlalu sakit, sampai aku tidak tahu harus menjawab apa. Ada rasa malu yang menusuk, ada marah yang kutelan mentah-mentah, ada harga diri yang terasa jatuh ke tanah. Tapi lagi-lagi, aku memilih diam. Aku hanya berkata pada diriku sendiri: tahan… tahan… tahan… semua pasti ada waktunya.
Setelah lulus SMA, aku pulang ke rumah dan mulai belajar bekerja pelan-pelan. Penghasilanku belum besar, bahkan belum benar-benar cukup. Tapi aku mencoba. Aku belajar mencari uang sendiri, belajar berdiri di atas kaki sendiri, belajar menahan gengsi dan rasa malu. Di saat yang sama, aku masih harus melihat perbedaan-perbedaan kecil yang kadang terasa menyesakkan.
Ada momen ketika adik dan kakakku punya motor yang bagus, sementara aku hanya punya motor yang sudah jelek. Dan entah kenapa, selalu saja ada orang yang menyindir dengan nada bercanda tapi menusuk: “Kenapa motor kamu bagus banget, Pi?” Aku tahu itu sindiran. Aku tahu mereka sedang menertawakan keadaanku. Tapi lagi-lagi, yang bisa kulakukan hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Iya… iya…”
Waktu, Perubahan, dan Rantau yang Panjang
Namun waktu berjalan, dan perlahan hidup mulai berubah. Aku bersyukur karena keluargaku dari pihak ayah tiri sudah tidak seperti dulu lagi. Mereka berubah. Mereka membaik. Perlahan, hubungan yang dulu penuh luka mulai diberi ruang untuk sembuh. Alhamdulillah, kami sekarang bisa hidup lebih rukun, lebih damai, dan lebih terasa seperti keluarga.
Aku juga terus merantau. Sejak lulus SMP, SMA, sampai tahun 2016, aku masih hidup di tanah rantau. Aku terbiasa jauh dari rumah. Aku terbiasa menahan rindu. Aku terbiasa pulang hanya tiga tahun sekali, bahkan lima tahun sekali. Rumah bukan lagi tempat yang bisa kutuju kapan saja. Ada jarak, ada biaya, ada keadaan yang membuat pulang menjadi kemewahan yang tidak selalu bisa kumiliki.
Dan mungkin, itulah yang membentukku sampai hari ini. Aku tumbuh dari kehilangan seorang ayah. Aku dibesarkan oleh air mata seorang ibu yang tetap memilih kuat. Aku hidup di tengah hinaan, perbedaan, dan perlakuan yang tidak selalu adil. Aku merantau dengan membawa luka, tapi juga membawa harapan. Aku belajar bahwa menjadi anak pertama bukan hanya tentang lahir lebih dulu, tapi tentang dipaksa kuat lebih dulu.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti hidup akan benar-benar membalas semua sabarku dengan kebahagiaan yang utuh. Aku juga tidak tahu apakah semua luka ini akan sembuh sepenuhnya. Tapi aku tahu satu hal: aku sudah terlalu jauh berjalan untuk kembali menjadi anak kecil yang hanya bisa menangis di sudut rumah.
Hari ini aku mungkin masih membawa luka, masih menyimpan banyak kenangan yang menyakitkan, masih mengingat kata-kata yang pernah menjatuhkan harga diriku. Tapi hari ini aku juga tahu, bahwa aku berhasil melewati semua itu. Aku adalah anak pertama yang kehilangan ayah saat kelas 3 SD, anak yang tumbuh bersama ibu yang luar biasa kuat, anak yang pernah dihina karena tidak punya, anak yang pernah ditanya kenapa sekolah memakai uang orang lain, dan anak yang terlalu sering menahan tangis sendirian di rantau.
Tapi aku juga anak pertama yang tidak menyerah.
Untuk Ayah, Ibu, dan Diriku yang Sudah Bertahan
Untuk ayahku yang pergi terlalu cepat, aku harap di mana pun ayah berada, ayah tahu bahwa anakmu masih terus berjuang. Untuk ibuku yang sudah terlalu banyak menangis diam-diam, aku ingin hidupku nanti menjadi jawaban dari semua doa yang ibu panjatkan. Dan untuk diriku sendiri, terima kasih karena tetap berdiri, meski sejak kecil yang kamu kenal hanyalah kehilangan, tanggung jawab, dan luka.